Hancur karena sanjungan
Oleh Eddy Ngganggus
Ada kecenderungan hyperbolik saat para pendukung menyanjung jagonya di saat menjelang PILGUB seperti sekarang. Ini indikasi hyperboliknya, orang membesar-besarkan, menghebat-hebatkan calon sendiri lalu mengecilkan calon lawan. Hal seperti ini alih-alih mendapat simpati malah mendapat sindiran. Begitulah sanjungan berlebihan justru bisa menghilangkan mood pemilih. Hal itu hanya mendatangkan ketenaran semu.
Tidak ada artinya pujian jika hal itu menimbulkan cibiran. Orang-orang memuji karena orang mengakui potensi yang ada pada kandidat ,maka celakalah bila apa yang disangka ada ternyata tiada. Ataupun jika ada ,tetapi tidak sehebat apa yang di ujar. Tidak sedikit pujian semu ini menghantarkan seseorang pada kesombongan.
Karena adanya pujian seseorang menjadi terperangkap dalam kehebatan diri . Lupa untuk terus memperbaiki diri, atau meningkatkan kebaikan diri dan seolah-olang sudah benar-benar hebat dan luar biasa. Padahal bisa jadi sebaliknya.
Pepatah mengatakan,Orang yang mudah tersanjung, mudah tersandung. Lebih baik berkembang karena kritikan daripada hancur karena sanjungan.
Ikhlas saja, ini pertanda ikhlas itu ;
Jika seseorang melakukan sesuatu bukan lantaran ingin di puji atau tidak melakukan sesuatu agar tidak di cela, tetapi baik melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena cinta pada kebaikan.
Saran
1.Jangan membuat kandidat kita tersanjung karena pujian semu. Karena tidak sedikit kultur ceroboh membuat mereka hancur karena sanjungan daripada selamat karena kritik.
2.Jadilah rendah hati.
Mungkin kata-kata berikut bisa dipandu menuju rendah hati ;
"Kelebihan kita saat ini adalah banyak kekurangan, lalu kekuranga kita saat ini adalah sedikit kelebihan"
3. Sanjunglah dengan bijak, kritiklah dengan hikmat.

Komentar
Posting Komentar