Polemik Jokowi versus Mega , sebuah Demistifikasi Kekuasaan
Oleh Eddy Ngganggus
Pertarungan pengaruh takan pernah berhenti sepanjang masih ada ingatan di sakiti.
Bilakah rencana pertemuan Jokowi dan Mega terwujud ?
Wacana pertemuan keduanya mengemuka setelah keduanya akan pensiun penuh / fully retired dari kuasa mereka sebagai Presiden dan ketua Partai.
Kuasa mengindikasikan Pengaruh.
Kesejajaran atau kesetaraan kekuasaan itu mungkin, namun kesejajaran atau kesetaraan pengaruh setelah pensiun itu mustahil. Punya pengaruh setelah pensiun itu fiksi.
Apakah tata kelola partai dan kekuasaan yang pernah dan sedang dipimpin sudah berpijak pada tata kelola atau Good Governance ? Pada kejujuran ? Pada kebaikan ? Pada kebenaran ? Mungkin sebagian saja dari Goood Governance (GG) telah diupayakan namun selebihnya belum terwujud masih berupa janji kosong.
Masih punya potensi orang buta tuntun orang buta.
Ethics, jabatan itu bukan merupakan puncak dari kehidupan. Ada fase terakhir yang mesti diraih, yaitu kontemplasi. Perenungan inilah yang mengantarkan bapak, ibu pada akhir pencarian tentang eksistensi. Dan inilah saatnya.
Bahwa baik bu Mega maupun pak Jokowi sama-sama pernah punya kuasa , sudah dan sedang menikmatinya itu natural and necessary atau alamiah dan diperlukan oleh bangsa Indonesis yang bapak ibu pimpin ,namun hasrat, untuk saling membenarkan diri demi gengsi untuk diakui satu sama lain adalah natural but not necessary, alamiah namun tidak dibutuhkan oleh bangsa ini. Yang dibutuhkan bangsa ini sekarang adalah seorang penguasa yang mempunyai kemampuan yang bisa menggerakkan seperti raja dan arif sebagaimana seorang filsuf.
Bahwa yang pernah terjadi adalah persekutuan antara politikus dan saudagar. Tak pelak, dua kepentingan itu sudah begitu mengemuka dalam kebijakan selama ini. Sejauh ini, kepentingan penguasa dan peniaga di era pemerintahan yang sudah-sudaj belum berubah & bahkan masih berjalan. Kita terima itu sebagai ketidak sempurnaan manusia , siapapun dia termasuk saya yang mengkritik.
Sudahi dendam itu agar tidak tejadi defamiliarisasi atau tindakan merusak keakraban sosial pada anak cucu bangsa ini setelah bapak ibu Pensiun dari politisi dan birokrat.
Bapak dan ibu adalah orang yang dipandang terhormat dan mulia oleh bangsa ini yang kami dan seluruh bangsa Indonesia kenang bukan saja karena kebaikan trtapi juga bisa karena kekeliruan yang pernah di lakukan.
Janganlah sampai legasi yang ditinggalkan justru demistifikasi kekuasaan, yakni tindakan yang membuat tujuan & sikap buat bangsa dan negara ini menjadi misterius atau kabur *.
Komentar
Posting Komentar