Atheis, Agnostik & Agamawan kontribusinya dalam pusaran konflik politik

Oleh Eddy Ngganggus


Ada 3 kelompok komunitas orang  dengan jawabannya masing-masing  jika di tanya perihal apakah ada TUHAN ?
Kelompok pertama menjawab TUHAN itu tidak ada , mereka ini adalah kelompok orang atheis, kelompok kedua memberi jawaban kami tidak tahu apakah TUHAN itu ada atau tidak, mereka ini adalah kempok agnostik. Lalu kelompok ketiga memberi jawaban TUHAN itu ada, mereka adalah kaum agamawan. Jawaban mereka berkisar pada kata , tidak ada, tidak tau, dan ada. Masing-masing mereka meyakini apa yang mereka pahami adalah yang paling baik dan paling benar . Bagaimana dengan kita  apa jawabannya ?

Sifat kebenaran adalah " mutlak benar" atau " mutlak salah".  Karena itu mana dari ke tiga kelompok di atas yang mutlak benar dan mutlak salah ? Kita masing-masing tentunya punya jawabannya, dengan alasannya masing-masing atas kenyataan ini. Tidak bisa ada yang setengah benar atau setengah salah atau salah sebagian atau benar sebagian. Tidak ada hierarki dalam kebenaran dan kebaikan. Sifatnya tunggal dan mutlak.
Seperti apa tunggal dan mutlak itu digambarkan ? Jawabnya adalah ; Seperti mutlak dan tunggalnya realitas manusia yang hidup pasti akan mati. Tidak ada lagi diskusi untuk kepastian ini. Silahkan pembaca deskripsikan pandangan pembaca akan hal ini.

Saya mendeskripsikan pandangan saya tentang hal itu seperti berikut : Pertama , Pengalaman hidup sejak lahir hingga sekarang membentuk konsep saya tentang apa itu kebaikan dan kebenaran , misalnya suatu waktu saat saya masih kecil (usia sekitar 6 tahun) saya punya pengalaman lucu dengan kakek saya.  Saya mengencingi kakek saya saat kami mandi bersama di kali. Kakek saya tertawa terbahak-bahak tanpa marah sedikitpun pada saya. Rupanya kakek dan saya sepaham mengencingi kakek dalam suasana beramai-ramai mandi di kali adalah gurauan atau canda semata. Saat itu saya menganggap itu baik dan benar karena perbuatan itu mengundang tawa, bukan amarah. Jika saat itu kakek marah, tentu saya akan tahu mengencingi orang itu salah dan tidak baik.
Namun rupanya kakek tahu motif cucunya yang sekecil itu tentu belum tahu motif buruk dibalik aksi ini , berikut seberapa tidak nyaman cucunya jika ia tidak mengeluarkan air kecilnya disaat tubuh menggigil karena kedinginan mandi di sungai. Jadi ada kondisi  mendesak .Yang kakek tahu motifnya pasti bercanda & juga tidak sehat bagi cucunya bila menahan buang air kecil pada saat yang harusnya di buang .
Pelajarannya adalah untuk menilai etis tidaknya perbuatan seseorang  tidak melulu pada aksinya tetapi juga menilai apa motif tang melatari tindakannya, seberapa dekat kekerabatan sosial antar mereka dan adakah kondisi mendesak lain yang terjadi disekitar peristiwa itu.
Selain pengalaman , yang kedua adalah soal "otoritas". Siapa yang berhak menilai suatu tindakan itu baik atau buruk ?  Mula-mula otoritas itu datang dari diri para pelakunya. Mereka mesti jujur mengatakan latar kondisi sebenarnya yang terjadi. Sifat otoritas penilaian seperti ini pasti ada subyektifitas penilaiannya . Tetapi sesubyektif  apapun penilaian jika dinilai dengan jujur maka itu adalah penilaian terbaik. Sebaliknya seobyektif apapun penilaian bila diselipi kebohongan maka, penilaian itu menjadi buruk.
Lalu apa kaitannya dengan thema Atheis , Agnostik dan Agamawan yang kita ngobrol saat ini ?
Pertama soal sikap etis ,dikenal dan dihayati juga oleh semua paham, baik atheis, agnostik maupun agamawan.
Pada beberapa kodisi kaum atheis dan agnostik kerap memiliki Preferensi etis yang lebih baik pada soal kemanusiaan. Kaum agamawan kadang cenderung memilih sikap netral ketika etika politik suatu bangsa di langgar oleh para pemimpinnya. Mungkin karena konstitusi negara berbeda dengan konstitusi suci agama-agama. Yang juga bermakna konstitusi negara dan konstitusi suci agama ada pada lintasan yang berbeda.
Padahal agama dan negara sama-sama mengejar kebaikan dan kebenaran. Hanya saja terminal akhirnya berbeda. Jika destinasi kaum agamawan adalah akhirat sedangkan destinasi pemerintahan politik adalah masih di dunia. Di sinilah kontribusi kaum atheis dan agnostik tertuju. Soal ada tidaknya konsekuensi lanjutan di akhirat tidak di urus oleh mereka. Sampai disini mestinya kaum agamawan turut ada bersama-sama kaum atheis dan agnostik untuk mengurus penyimpangan etis yang terjadi oleh pemimpin politik. Untuk apa ? Agar agama solider dengan semua kaum, meskipun ia tidak mestibmenjadi serupa dengan mereka. Solider tetapi tidak serupa. Seperti apa solider tetapi tidak serupa itu ? saya gambarkan dengan paralelisme berikut ,untuk menjadi guru tidak mesti seseorang berijazah guru lalu berdiri di depan kelas, tetapi ia bisa menjadi seorang guru lewat teladan hidup, contoh hidup yang baik dan benar, tidak menjadi bagian dari keonaran, bagian dari sikap ragu-ragu,sikap ambigu . Label guru disemat karena kesanggupannya menjadi pembawa jalan keluar dari kebodohan spiritual, kebodohan emosi dan kebodohan intelektual. Sampai disini orang ber Tuhan maupun tidak berTuhan sama-sama bersepakat bahwa berETIKA dalam hidup berbangsa itu adalah sebuah kebutuhan. Dengan begitu ,sama-sama menentang siapa saja entah ia penguasa, rakyat jelata, jika ia sudah melanggar etika ,maka ia  layak di hukum. Hanya orang yang beretika yang layak diberi hak menjadi pemimpin, dan dari pemberian itu ia juga wajib memberikan kontrapretasi berupa kinerja yang baik sebagai bentuk kontribusi atas jabatan yang diberikan.
Dalam konteks politik Pemberian jabatan apapun, mensyaratkan kontribusi dari yang menerima jabatan itu. Dengan kata lain setelah mendapatkan, maka ia juga harus memberi.

Liliba, 24 Maret 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi