Analisis Etik fenomena kritis hasil Pilpres




Oleh Eddy Ngganggus

Tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Tetapi bisa saja ilmu pengetahuan bersumber dari pengetahuan. Pengetahuan yang disebut episteme bukan scienta dalam istilah latinnya atau science dalam istilah Inggrisnya. Dua diksi ini saya gambarkan sebagai kristalisasi nilai dari fenomena protes sebagian pihak atas hasil quickcount pemilihan Presiden .

Pertama ,pengetahuan itu tidak bebas nilai. Saya tahu bahwa saya tidak jujur adalah pengetahuan. Tahunya saya disini adalah episteme bukan scienta. Jangan sampai menggunakan scienta untuk membenarkan episteme , menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengaburkan pengetahuan , karena jelas hal ini akan menabrak nilai kebenaran dan kejujuran. Mengaburkan episteme dengan menggunakan scienta, atau realnya menggunakan kebohongan untuk mengaburkan kebenaran, ini adalah dusta.

Kedua, Etika adalah Pengetahuan & Ilmu Pengetahuan yang membawa manfaat

Pada batu nisan Emanuel Kant tertulis kata-kata , setinggi-tingginya bintang di langit , masih tingggi moralitas di dada manusia. Kata-kata ini masih sangat relefan di tengah euphoria manusia yang mengangungkan science. Di lain kesempatan Francis Bacon seorang empirisme Inggris, mengatakan Knoweldge is Power. Tanpa berpretensi mengecilkan peran science untuk mencapai kesejahteraan bersama, saya berpandangan science tanpa nilai etik dan moral manusia akan menjadi seperti robot. Juga etika tanpa science juga adalah ilusi . Sehingga kata-kata Bacon dapat direvisi menjadi Konoweldge is power but moral si more. Moral berisi nilai kebenaran dan kejujuran sangat diperlukan untuk mengendalikan, dan memandu agar arah science tetap tertuju pada tujuan mecapai kesejahteraan bersama melalui perwujudan nilai keadilan dan kejujuran dalam perhitungan suara Pemilu.

Sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran dan kejujuran akan menghasilkan suatu keadaan yang disebut Kecelakaan. Dusta tidak mungkin akan menghasilkan kesejahteraan. Dusta akan selalu menjauhi kesejahteraan bersama atau bonum commune. Jika tampak sejahtera bisa di pastikan itu kesejahteraan semu. Kebenaran dan kejujuran dalam scienta atau ilmu perhitungan yang di jadikan pembenaran dalam klaim menang ini adalah tanggung jawab bukan pesta kemenangan. Ini mestinya merupakan selebrasi tanggung jawab , bukan selebrasi kemenangan semata. Sikap hasrat menghitung hasil PEMILU dengan jujur dan benar mesti menjadi coriousity atau rasa ingin tahu yang kuat untuk menggali dan menemukan jawaban keinginan sejati rakyat melalui hasil perhitungan yang sesungguhnya. Hanya dengan begitu kebenaran sejati akan ditemukan.

Ketiga kubu yang telah bertarung jangan sampai mendahulukan imajinasi kemenangan lalu membelakangi data hasil perhitungan. Ini bisa terjadi bila imajinasi menjadi penguasa menabrak norma hukum yang sudah disepakati bersama sebagai rule of game . Membiarkan data hasil perhitungan sesungguhnya apa adanya tanpa ada penambahan atau pengurangan, akan menentukan negara ini akan menjadi negara sesungguhnya apa adanya atau negara “seolah-olah”. Manfaat baik Kejujuran dan keadilan akan sampai akhir hayat, sedangkan manfaat kebohongan sangat fana ,sangat sebentar, tampak megah sesaat lalu akan segera lisut, layu dihina, diolok karena tak berguna.

Berbohong di era kehidupan manusia yang konektifitas informasinya sudah di dominasi oleh perangkat Teknologi Informasi yang kian presisi , akurat dan praktis adalah sia-sia. Ibarat sia-sianya orang yang hendak bersembunyi di atas ketinggian tanpa naungan, pasti akan tetap terlihat.

Di perlukan juga pada situasi seperti ini adalah sikap independent penguasa negara pada realita hasil pemilihan. Kendali sikap kritis penguasa mesti tetap terarah penuh pada realita data hasil pemungutan suara yang sesungguhnya . Jangan pada imajinasi atau hasrat berkuasa yang bebas nilai, atau mengabaikan realitas suara yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi