Aku hendak ke Roma untuk di salibkan kembali
Bagian 1…
Oleh Eddy Ngganggus
Judul tulisan di atas adalah kutipan kata-kata apokrif *) Yesus kepada Petrus. Semacam dialog imajiner antara Petrus dengan Yesus. Dialog lengkap antar keduanya kurang lebih seperti ini ;
Petrus : “Quo vadis, Yesus ?“, artinya ke manakah engkau akan pergi, Yesus ?.
Yesus : “ Venio Romam iterum crucifigi “, artinya Aku hendak ke Roma untuk di salibkan kembali”.
Pertanyaan Petrus dan jawaban Yesus ini menjadi entry gate atau gerbang masuk saya untuk mengsimulasikan perjalanan KMK Santa Perawan Maria (KMK SPM) Fapet Undana sejak kami dirikan pada tahun 1992. Jujur saya tidak merasa sebagai pendiri wadah intelektual muda Katolik ini. Bahwa pada bulan Mei 1992 kami beberapa mahasiswa & mahasiswi yang beragama Katolik adalah kaum kecil dan minoritas di kampus Fakultas Peternakan Undana sering berkumpul, berdiskusi dan juga berdoa bersama tujuannya hanyalah untuk memanifestasikan iman sambil mengasah kemampuan akademik kami di kampus coklat ini. Memanifestasikan diri sebagai akademisi sekaligus awam Katolik muda karena terselip keinginan agar berguna bagi negara dan gereja. Setidaknya ingin berkontribusi bagi prestasi akademik kampus dan prestasi sebagai awam muda Katolik, sebisanya menjadi bagian dari solusi bukan bagian dari trouble maker atau pembuat keonaran. Karena saat itu sangat rentan terjadi friksi antara kelompk yang berbeda pandangan, termasuk pandangan keyakinan . Obsesi ini berhasil di bangun. Salah satu indikatornya adalah, terjadi di level petinggi organisasi kemahasiswaan kampus saat itu terjadi share kekuasaan di mana ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di sepakati dari teman berkeyakinan Protestan yakni rekan Jimmy Katu (almarhum, yang adalah suami dari rekan KMK Fapet kita bernama ibu Ana Maria kerans, atau biasa di sapa Libi), lalu atas dialog yang harmonis juga, di mana ketua senat mahasiswa dipilih dari kalangan Katolik yakni saya sendiri ,Eddy Ngganggus. Sebagai seorang ketua senat mahasiswa yang beragama Katolik saya memimpin organisasi mahasiswa yang beranggota multi keyakinan, multi etnis, dengan dasar nilai Katolik. Ini tidak berpretensi ingin mendominasi, apalagi mempengaruhi rekan mahasiswa yang beragama lain untuk berafiliasi ke Katolik. Itu tidak rasionil dan tidak humanis. Hanya saja gejolak orang muda yang salah satu cirinya mudah sekali darahnya “mendidih” atau tersulut untuk melakukan pendekatan otot ketimbang otak bila ada hal pelik yang sulit di putuskan. Hehehe..... jangan ditiru ya... Warna warni friksi kadang menyelip dalam hubungan organisasi seperti ini, namun semuanya selalu berakhir dengan rangkulan dan damai hingga tamat dari kampus coklat tercinta. Kini relasi manis itu terus dirajut baik hingga kami masing-masing memasuki dunia putih alias berambut uban dengan ragam profesi, ragam status atau predikat sosial baik di tempat kerja maupun di societas kemasyarakan lainnya.
Peristiwa itu terjadi 32 tahun yang lalu. Kini terjadi meet to roof semacam berjumpa dengan akar, anak-anak kami anggota KMK SPM Fapet Undana menemukan akar , perintis, pembentuk wadah ini yakni para seniornya dan orangtuanya. Apa makna perjumpaan yunior dengan senior yang telah menjadi alumni dan alumna, antara anak dan bapak mamanya? Mengawali penemuan jawaban atas pertanyaan itu di sejarahi oleh pertemuan apik pada Natal & tahun bersama bulan Januari tahun 2024 , dilanjutkan dengan diskusi ringan bersama di rumah kami yang di anggap sebagai pendiri (kami sendiri tidak merasa sebagai pendiri. Terimakasih untuk predikat yang disematkan kepada saya oleh adik-adik sekalian).
Selama dua pertemuan awal ini kami berkolaborasi ide, gagasan yang menghantar saya pada ingatan dialog imajiner antar Yesus dengan Petrus sebagaimana narasi singkat di atas.
Dialog guru dan murid di atas saya paraleliskan ke wadah KMK SPM, ke mana KMK SPM ini hendak di arahkan ? Quo vadis KMK SPM ? Pertanyaan reflektif ini adalah pertanyaan penyadaran........
*) Apokrif adalah , perihal yang tidak jelas asal-usulnya.

Komentar
Posting Komentar