Etika Mencuri
Peradaban manusia sudah sampai pada taraf menerapkan etika dalam mencuri. Esensinya, jangan sampai pencuri meresahkan orang yang kehilangan . Agar korban pencurian rela kehilangan ataupun karena ia ketakutan ,tidak soal yang penting ia tidak rese. Ini tampaknya contradiction in terminis .
Kenapa sampai ada konsep etika dalam mencuri ?
Untuk memudahkan pembaca mengerti pikiran saya ini, berikut sekelumit kisah yang pernah di tuturkan oleh seorang sahabat kepada saya .
Suatu waktu di daerah yang konon sebagian besar penduduknya hidup dari hasil mencuri hewan. Dikisahkan pada malam hari yang belum terlalu larut , sekelompok pencuri mendatangi kandang babi milik seorang janda. Oleh janda ini, kandang babinya di buat tidak jauh dari jendela kamar di mana ia tidur. Tujuannya agar ia lebih mudah mengawasi babinya dari aksi kawanan pencuri. Dari ranjangnya malam itu ia mendengar suara bisik-bisik orang yang sudah dipastikan olehnya itu adalah kawanan pencuri yang sedang berusaha mencuri babi peliharannya. Si janda tidak berani membuka jendela apalagi berteriak , takut kalau-kalau kawanan pencuri nekat membunuhnya, sebagaimana banyak nasib yang dialami korban pencurian di daerah itu. Namun tetap saja sebagai yang empunya babi sang janda merasa tidak tega babi peliharaanya dengan begitu mudah digondol pencuri. Ia sengaja bersuara dengan nada batuk kecil ehem…ehem… untuk memberi isyarat bagi pencuri bahwa ia mengetahui apa yang sedang terjadi dengan babinya. Sang pencuri di kandangpun tahu bahwa itu adalah isyarat pemiliknya dari dalam kamar bahwa pemiliknya tahu nasib babinya akan segera berpindah alamat. Komunikasi timbal balikpun berlangsung dari balik jendela olah sang pencuri sambil berseloroh “ babi kecil saja kamu batuk, apalagi kalau babi besar” ,(padahal ukuran babi dalam kandang itu adalah babi besar, namun menurut pencuri itu ukurannya kecil). Tidak lama kemudian suara di luar kamar sepi, rupanya kawanan pencuri telah pergi. Sang janda memberanikan diri mengintip dari celah dinding rumahnya ke arah kendang babi. Sang janda mengelus dada karena didapatinya sang pencuri meninggalkan satu ekor dari dua ekor babi yang ada di dalam kandangnya.Kisah pencurian babi sampai disitu .
Pembaca yang budiman, berikut pesan etik yang mau saya sampaikan dari kisah di atas . Mencuri itu tidak baik karena pencuri mendapatkan keuntungan dari kerugian orang lain. Mencuri yang sudah menjadi kebiasaan lalu akhirnya menjadi tradisi akan menjadi sulit di berantas. Lantaran sangat sulit membuktikan bahwa seseorang tidak mencuri sebagaimana sama sulitnya pula membuktikan bahwa sesorang telah mencuri.
Sulit pada pembuktiannya oleh penyidik. Di perberat lagi dengan kondisi penyidik yang kadang malas ,juga kadang tidak piawai mengerahkan upaya untuk mencari keterangan dari kelompok kawanan pencuri atau juga mungkin juga ada penyidik yang (maaf) sudah “dibeli” oleh para pencuri. Sense of risk crime justru ada pada diri pencuri , mereka menjadi tidak tega untuk mencuri terlalu banyak. Dari situlah lahir kesadaran dari para pencuri di daerah itu jika mencuri , mesti sisakan juga buat yang empunya, jangan sampai di curi semua sampai habis.
Para pencuri memiliki pengetahuan mencuri yang yang baik, bahkan piawai dan ahli dalam mencuri , namun mereka masih menyisahkan sedikit rasa iba kepada para korbannya.
Inilah etika mencuri yang saya amati yang masih tersisa. Dalam mencuri masih ada etika.
Saya berandai-andai suatu waktu pencuri babi sang janda tertangkap, jika ia di hukum, maka bukan karena ia telah mencuri tetapi agar babi-babi lain jangan turut di curi.
Yah begitulah , “Knoweldge is power, but moral is more”.

Komentar
Posting Komentar