Alkisah Pemulung yang baik hati

Oleh Eddy Ngganggus

Suatu ketika seorang bapak, melintasi sebuah jalanan yang  di pinggirnya ada sebuah sumur yang baru saja di gali  beberapa waktu lalu . Karena penglihatan sang bapak  kabur lantaran usianya yang sudah tidak muda lagi ,ia tidak melihat ada sumur di depan jalan yang ia lintasi , iapun jatuh terjerambab ke dalam  sumur sedalam sekitar 5 meter . Dari dalam lubang itu sang bapak berteriak minta tolong. Seorang pemuda yang melintasi tempat itu melongok ke dalam lubang sumur itu lalu bertanya kepada sang bapak, “kenapa kamu bisa berada dalam lubang itu pak tua ?”, sang bapak menyahut, “Saya,  terjatuh nak , saya tidak melihat kalau di sini ada lubang, tolong saya nak”. Pemuda itu menimpalinya dengan berkata, “nanti lebih hati-hati ya pak tua , lain kali kalau jalan, mata mesti lebih waspada !” sambil terus berlalu pergi dari tempat itu.

Tak lama kemudian berlalu di tempat itu seorang ibu, ia mendengar suara minta tolong dari lubang sumur, ia mendekati sumber suara itu dan melihat bapak tua dari dalam lubang itu melambaikan tangannya minta tolong, ibu itu berkata, “ kasihan sekali kamu pak tua, saya prihatin dengan keadaanmu, tetapi saya minta maaf ya saat ini saya belum bisa menolongmu karena saya mesti pergi beribadah sekarang, karena saya takut terlambat kalau menolongmu saat ini, nanti setelah selesai ibadah saya akan datang kembali menolongmu. Lalu ibu itupun pergi meninggalkan tempat itu.

Lalu kemudian selang beberapa waktu kemudian melintas di tempat itu seorang bapak setengah baya, ia mendengar suara lirih yang lemah dari dalam lubang sumur teriak minta tolong. Sang bapak setengah baya itu menghampiri sumur itu. Ia berpikir sejenak, lalu meminta pak tua di dalam sumur untuk diam sejenak agar bisa mendengar suaranya beri petunjuk bagaiamana caranya agar pak tua bisa naik dari dalam lubang itu. Sang bapak setengah baya ini mulai memberi petunjuk, “nanti kaki kananmu menginjak sisi kanan lubang sambil  tangan kananmu memegang erat dinding sumur yang di atasnya. Kamu mesti mengerahkan tenaga yang cukup kuat ya !, agar berangsur-angsur bisa mendekat ke atas sini”. Pak tua mengikuti petunjuk dari atas sumur, namun karena tanahnya licin dan kekuatan pak tua tak cukup untuk melakukannya sendiri maka upayanya sia-sia. Sang bapak setengah baya dari atas sumur berkata , “percuma saya beri petunjuk kalau tidak ada usaha dari kamu sendiri untuk mengerahkan upaya yang kuat untuk keluar dari dalam sumur. Tetap semangat ya pak tua pasti nanti kamu bisa”, demikian motivasi sang bapak setengah baya dari atas sumur. Lalu bapak setengah baya itu juga pergi meninggalkan pak tua itu di dalam sumur .

Hari mulai sore, suara pak tua dari dalam sumur mulai terdengar sangat lemah. Kebetulan saat itu melintas seorang pemulung dengan gerobak tuanya melintasi tempat itu hendak pulang ke rumahnya. Ia mendengar sayup-sayup suara minta tolong . Ia mendapati sumber suara itu dari dalam lubang sumur. Didekatinya sumber suara itu dan didapatinya pak tua sedang berlutut minta tolong ke arahnya. Sang pemulung dengan sigap menurunkan 1 botol air mineral yang dililitkan pada tali yang biasa digunakannya untuk mengikat tumpukan rongsokan hasil mulungnya, sambil berkata ,” kamu minum dulu ya pak , hingga tubuhmu segar dan kuat kembali. Lalu setelah itu nanti dengan tali yang sama ini kamu lilit tubuhmu sambil  saya menarik kamu kemari , kaki dan tanganmu menumpu sepanjang  dinding sumur hingga ke atas sini.” Pak tua meneguk habis air mineral yang diturunkan si pemulung, tubuhnya terasa segar dan kuat kembali. Lalu setelah sang pemulung melihat kekuatan pak tua pulih kembali ,ia menginstruksikan agar tali yang ia gunakan untuk menurunkan minuman dililitkan pada tubuh pak tua dan sebagian pada kaki dan tangannya untuk memudahkan sang pemulung menarik dia ke atas sambil pak tua dengan kaki dan tangannya  bertumpu di sepanjang dinding sumur dari bawah hingga ke atas. 

Hitungan 1…2…3 tubuh pak tua perlahan lahan naik merayap sepanjang dinding sumur. Tampak sekali sang pemulung ini sangat kuat menarik dengan satu,dua cara yang dimilikinya, pak tua akhirnya tiba di atas permukaan sumur dengan selamat. Pak tua merangkul sang pemulung dengan deraian air mata. Demikianpun sang pemulung merangkulnya lalu mengajaknya untuk ke rumah sang pemulung sekedar mandi dan membersihkan tubuhnya yang penuh dengan lumpur.

 Pesan etik yang bisa kita timba dari ceritera di atas. Seringkali kita hanya bisa memberi nasihat, petunjuk, dorongan, motivasi kepada orang yang sedang mengalami kesulitan. Bahkan ada yang lebih buruk lagi mencemooh seperti sang pemuda di kisah di atas. Orang yang mengalami kesulitan yang utama dibutuhkannya adalah bantuan fisik, setelah itu barulah bantuan nasihat , petunujuk, dorongan, motivasi. Saat ini banyak motivator, atau setidaknya banyak orang yang sangat giat mengikuti seminar motivasi kerap sekali rajin memberi petunjuk, model cara bagaimana seseorang di dorong untuk piawai mensiasati problem hidup sebanyak ilmu motivasi yang mereka dapat dan ajarkan. Namun itu semua kata-kata , masih sangat sedikit yang mewujudkan kata-kata itu dalam tindakan nyata seperti yang di lakukan sang pemulung.  Pertimbangan rasionalitas seringkali menjadi penghambat kita untuk memberi bantuan seperti yang dilakukan orang 1, 2 & 3 pada kisah diatas. Tidak demikian dengan orang ke 4 si pemulung yang memberi tanpa  perimbangan rasionalitas. Mungkinkah perasaan religiusitasnya yang menjadi pertimbangannya ? silahkan direfleksi. Selamat menjalani masa advent, mengenang hari kelahiran sang Pemberi  yang tak terbatas kepada kita , Tuhan Kita Yesus Kristus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi