Lebenseinstellung, Gaya Hidup malu Korupsi
Saya awali tulisan ini dengan menceriterakan sebuah kisah yang di tulis pak Mahfud MD , berikut ;
Awal 2014, selepas menjadi ketua MK, saya diundang menjadi tamu oleh Kementerian Luar Negeri Jepang di Tokyo.
Saat saya tiba di sana, sedang gencar berita dan kampanye untuk pemilihan gubernur Tokyo.
Apa ada penggantian gubernur ...?? tanya saya
Ya, tetapi bukan berdasar jadwal normal, melainkan karena Gubernur Inosi, pejabat yang definitif, mengundurkan diri.
Mengapa mengundurkan diri ...??
Karena sang gubernur diberitakan meminjam uang tanpa jaminan ke sebuah rumah sakit besar dan oleh pers itu dicurigai untuk mendanai kampanye politiknya.
Karena pinjaman itu tanpa jaminan, pers menduga Inosi nanti akan memberikan imbalan dalam bentuk, mungkin, korupsi politik.
Jadi, sang gubernur mengundurkan diri karena malu saat dicurigai akan (baru dicurigai: akan) menggunakan jabatannya untuk melakukan korupsi politik.
Sampai di situ kisahnya. Sebuah keputusan yang mulia dari sang Gubernur . Bisa di pastikan ia memiliki peradaban hidup yang luhur, behavior (perilaku hidup) yang humanis. Kapasitas teknisnya, kemampuan atau penguasaan sang Gubernur perihal ilmu ketatanegaraan, ilmu pemerintahan yang disimbolkan melalui gelar akademis tertinggi sekalipun yang dia miliki tidak lebih penting dari kapasitas etis yang di punyainya sebagai sebuah syarat agar ia menjadi layak memimpin propinsinya. Ya kapasitas etis , yang diwujudkan dengan keteladanan hidup yang berisi nilai keutamaan seperti jujur, rendah hati, adil, murah hati, lemah lembut. Nilai ini menjadi dambaan rakyat. Karena dari situ rakyat akan menikmati kualitas hidup yang damai dan sejahtera. Karena tujuan memimpin adalah kesejahteraan rakyat yang dipimpin (bonnum commune suprema lex esto).
Ada budaya malu. Malu karena lebih memikirkan diri sendiri, malu karena tidak ikut melibatkan diri dalam setiap perjuangan rakyatnya menolak ketidak adilan (yang berakar pada hasrat korupsi) ,malu karena hanya berharap pada kemurahan hati alam, tanpa memberia apa-apa yang berarti kepada alam.
Di bagian lain Mahfud MD juga mengisahkan tentang situasi kontras di tanah air yang berkisar mental pelayan hukum , tentang cerita-cerita bahwa calon pengacara yang magang (latihan mencari pengalaman) kepada pengacara senior justru tugas pertamanya adalah disuruh mengantar uang kepada hakim, jaksa, atau polisi dan yang bersangkutan harus memastikan penyerahan suap itu aman adanya.
Prestasi etik apalagi prestasi spiritual tidak tampak di kisah calon pengacara dan hakim seperti kisah di atas . Ini akar masalah yang menyebabkan tercederainya rasa adil pada diri orang yang menjadi korban salah kebijakan . Jejak-jejak luka hati pada korban ketidak adilan akhirnya mengkristal menjadi sikap apatis dan pasrah pada nasib mau di apakan penguasa, yah sudahlah semoga nanti semesta yang akan berpetuah kepada mereka, dengan cara semesta yang sudah pasti adil, baik, benar dan takan keliru.
Prestasi etik dengan dasar spiritual yang elok, sangat dapat di andalkan dalam situasi perang kita melawan pengadilan semu . Integritas yang baik bisa menjadi counter spirit untuk mengatakan tidak tanpa merasa bersalah kepada mereka yang berbuat curang. Prestasi etik dengan dasar spiritual niscaya bisa di jalani bila ketiga hal berikut diintegrasikan ke dalam tatanan hidup bersama kita. Ketiga hal itu adalah ; Berani, Haus Kebenaran, dan Rendah Hati. Kita berani berbeda dengan mereka yang berperilaku menyimpang, karena kebenaran menjadi kerinduan terdalam kita, keduanya dilakukan dalam semangat rendah hati, bukan lantaran mau menonjolkan diri.
Mari kita bangun gaya hidup malu mencuri kepunyaan orang lain, tetapi bangun gaya hidup mencuri hati Tuhan.
Komentar
Posting Komentar