Mengubah pandangan "Waktu adalah uang" , menjadi "waktu adalah kesempatan berbuat baik"
Oleh Eddy Ngganggus
Berbuat baik ,bisa mendatangkan uang , tetapi uang tidak selalu bisa membuat orang berbuat baik. Kedua hal ini yakni uang dan berbuat baik dibatasi oleh “waktu”. Waktu itu bernama “kesempatan”. Bila kesempatan ini hilang maka hilanglah uang, hilang pula niat berbuat baik. Namun seseorang belum tentu kehilangan kenangan berbuat baik atau buruk yang pernah di buat. Kenangan itu kekal. Ketika yang lain sudah mati maka kebaikan atau keburukan sesorang akan terus hidup dalam kenangannya ketika ia masih hidup. Hendaknya kebaikan yang pernah di berikan telah terkonversi menjadi Kesehatan, Pendidikan, Materi dan torehan baik lain yang pernah di abdikan . Uang akan menjadi berguna bila uang bisa merubah si pemilik uang menjadi lebih baik dan benar, juga orang lain , juga mendapat manfaat baik dari uang miliknya. Harta adalah titipan yang dipercayakan untuk memerdekakan orang lain dari kesulitan (amanah) bukan segala-galanya untuk di miliki pribadi.
Inilah beberapa contoh kesempatan berubat baik itu ; buatlah orientasi bisnis dengan cara kerja keras untuk mendatangkan hasil yang wajar bukan sekedar ingin cepat kaya apalagi dengan cara yang tidak wajar. Berprestasi dengan menguatamakan kemampuan diri sendiri bukan mengeksploitasi orang lain. Selalu berusaha , berkreasi berinovasi mandiri , bukannya hanya dengan meniru , plagiat tanpa mau mau berkreasi. Salut dan hormat atas keberhasilan orang lain, bukannya iri. Menghargai kesuksesan orang lain , bukannya mencemooh kesuksesan mereka. Senang membangun kolektivitas usaha bukan individualistis. Mau mengakui bahwa keberhasilan dirinya adalah berkat keberhasilan SDM lainnya , bukan di klaim sebagai hasil karya dirinya sendiri. Memiliki pandangan, janji adalah hutang bukan janji sekedar janji untuk menarik simpati. Memiliki prinsip bisnis harus jujur biar bisa mujur, bukan bebas melakukan kecurangan bisnis yang penting untung. Selalu menghargai ide orang lain , bukan sebaliknya mencuri ide orang lain lalu mengkalaim sebagai idenya sendiri . Selalu mengutamkan kepercayaan, bukan asal untung.
Kita bukan saja menjadi pemilik uang tetapi lebih dari itu menjadi pemilik kebaikan.
Ini beberapa perbedaan orang sebagai pemilik uang dan orang sebagai pemilik kebaikan. Menjadi pemilik uang , seperti bunga ia petik, dihirup wanginya, lalu akhirnya layu dan di buang. Namun sebagai pemilik kebaikan ia punya bunga, maka akan di siram, di pupuk di rawat, biar selalu segar agar bisa dinikmati harum bunga sepanjang masa bukan saja oleh pemiliknya namun juga oleh orang di sekitarnya sejauh harum itu bisa menyebar dan di jangkau orang yang senang dengan wangi bunga. Juga ibarat buku , sebagai pemilik buku sesorang hanya memajang di lemari di letakan di bawah bantal, di tiduri namun jarang di baca, tidak demikian dengan pemilik kebaikan , punya buku di baca, dipelajari diajarkan, kepada orang lain, lalu dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Juga ibarat pria beristri, sebagai pemilik istri , istri disuruh tetap di rumah , masak, mencuci, mengepel, menyeterika, namun jarang diberi biaya untuk mempercantik diri. Namun sebagai suami pemilik kebaikan punya istri mestinya di rawat, diajak ke salon, diajak wisata, menghirup udara segar, biar tetap cantik , segar dan anggun.
Mari kita akhiri tradisi berpendapat " waktu adalah uang menjadi waktu adalah kesempatan berbuat baik."
Komentar
Posting Komentar