Menjumpakan , sekaligus memisahkan keinginan dari kebutuhan
Oleh Eddy Ngganggus
Laman medsos umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata sejak kemarin ramai di isi dengan kegiatan-kegiatan lomba, baksos yang mengerah keramaian di seputar kompleks dan di dalam gereja St.F.X.Naimata . Buat saya ini adalah sebuah pra kondisi untuk sebuah kemajuan hidup beriman dan hidup menggereja umat Stasi F.X. Naimata . Pra kondisi mengarah pada methamorphosis gereja dari kepompong menjadi kupu-kupu dari habitus lama masuk ke habitus baru. Apa yang baru? dan apa yang lama? Yang ada saat ini akan menjadi yang lama dan yang kita harapkan terjadi ke depan akan menjadi yang baru.
Jika pada habitus lama (saat ini) kerterhandalan santapan rohani kita ada di kitaran hidup rohani berupa doa harian, mingguan, awal bulan dan doa lainnya baik di gereja, di KUB , juga doa pribadi , maka santapan rohani kita berikutnya adalah berupa buah-buah doa itu. Di antara manifestasi buah doa itu adalah karya nyata kita buat sesama, dan lingkungan tempat tinggal kita. Mengapa ? Karena relasi yang kita bangun dengan TUHAN lewat doa berakar erat pada relasi kita dengan sesama dan lingkungan tempat tinggal kita. Tidak mungkin kesanggupan rohani kita ini bisa memetamorfosisi / memindahkan kita dari hidup yang lebih baik bila relasi kita dengan sesama masih di isi dengan relasi saling tidak akur, tidak harmonis, masih mudah curiga dengan itikad baik orang lain, mudah sensi dengan saran baik orang lain, pelit berbagi, masih membiarkan anak-anak beda jenis kelamin di kost kita tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan, dan ragam norma menyimpang lainnya.
Keterpisahan tindakan nyata dari doa akan menjarakan harapan dan menjauhkan kita dari niat metamorfosis ini.
Sudut pandang ini cukup relevan di saat ini , saat stasi kita sedang menyiapkan pendirian bangunan untuk tempat tinggal imam kita . Agak sulit bangunan ini bisa rampung bila kita saat ini kuat berdoa namun enggan membiarkan tangan kita kotor ,berlumpur atau debu dari tanah untuk menggali atau menguruk tanah secara gotong royong pada lokasi bangunan ini, atau kita enggan berkeringat gotong royong menaikkan dan menurukan material ke dalam lubang galian bangunan ? enggan hadir bersama memenuhi undangan membahas kesulitan bersama dalam pembangunan ini, dan lain-lain sikap apatis yang justru membutuhkan kerja sama nyata kita.
Namun di atas semua itu potensi untuk beralih dari habitus lama ke habitus baru di stasi kita sangat nampak pada antusias umat dalam persiapan menuju puncak HUT santo pelindung stasi pada tanggal 4 Desember 2022 nanti.
Keselamtan kekal adalah kebutuhan kita , keselamatan fana kita adalah keinginan.
Keinginan kita mungkin bisa terpenuhi meskipun doa dan tindakan kita tidak selaras, namun tidak demikian dengan kebutuhan, ia hanya bisa terpenuhi jika doa dan tindakan kita selaras, anrtinya antara doa dan tindakan sejalan.
Kebubutuh keselamatan niscaya terpenuhi bila doa dan tindakan nyata kita selaras. Keinginan kita bisa terpenuhi meskipun doa dan tindakan kita tidak selaras.
Mari kita pisahkan KEBUTUHAN dari KEINGINAN dengan ambil haluan SELARASKAN DOA dan TINDAKAN NYATA.

Komentar
Posting Komentar