Menyembuhkan luka dengan luka




Oleh : Eddy Ngganggus

Kapan sembuh ?

Akankah luka di sembuhkan dengan luka ?
Bilakah luka tersembuhkan dengan luka ?
Bila luka disembukan dengan luka, maka mengharapkan luka itu sembuh, lalu mengharapkan waktu kesembuhan segera ,mungkinkah ?.
Menghilangkan perih dengan perih adalah sesuatu yang kontra. Mari simak refleksi  berikut untuk menemukan jawabannya .

Lingkup luka 
Alam sadar versus alam bawa sadar
Dua lingkup ini mungkin sudah bisa menghantar imajinasi pembaca ke mana ulasan akan berarah. Bekas guratan merah di pipi akibat tamparan seseorang bisa mudah hilang , namun luka perasaan akibat tamparan tidak mudah hilang . Merah di pipi bekas tamparan adalah sesuatu yang terinderakan , namun perasaan malu adalah sesuatu yang tak terinderakan. 
Kerawanan luka yang paling permanen bersumber pada yang abstrak . Luka yang  indrawi adalah jenis luka yang bisa segera terobati , tidak demikian dengan luka di rasa, misalnya malu akibat tamparan. Induk dari luka itu ada pada rasa, bukan pada pipi yang memerah dan perih .

Kita membentuk kemauan, yang ilahi akan membentuk kemampuan. Kemampuan akan di beri tepatnya di karuniakan. Dari pihak kita adalah menyusun kemauan untuk bersikap dan bertindak memberi pengampunan. Pemberian itu mesti berwujud. Tidak abstrak. Apa wujud pemberian itu ? Pengorbanan. Pengorbanan itu membutuhkan pengerahan upaya yang besar. Mengerahkan upaya besar ini bisa mendatangkan ketidaknyamanan baru, ketidaknyamanan itu adalah salah satu bentuk luka. Namun luka pengorbanan berbeda luka yang timbul akibat lalai, ceroboh , tidak taat pada dalil . Luka karena alasan buruk ini bermakna cedera. Namun luka yang timbul akibat upaya yang dikerahkan karena niat ingin menolong , meringankan beban sesuatu. Sesuatu itu bisa orang bisa keadaan. Luka karena motif menolong ini di sebut dengan pengorbanan . Nampak kedua luka ini dibedakan oleh motif yang melatari tindakan. Yang satu motivasinya adalah Kasih, yang satu motifasinya bukan kasih. Luka yang timbul karena tidak “mampu” melakukan kebaikan akan berbeda konsekuensinya dari luka yang timbul lantaran tidak “mau” melakukan kebaikan.  

o Beri pengampunan.
Pengampunan adalah hal keputusan, bukan perasaan. Bagaimana wujud real keputusan itu ? jawabnya adalah tindakan. Ambil haluan untuk bertindak memberi diri untuk menolong lawan (musuh) keluar dari masalahnya. Bahwa lawan itu akan mendapatkan konsekuensi dari kesalahan yang pernah dilakukan , itu bukan menjadi porsi kita untuk membatalkannya. Hukuman bagi pelanggar aturan adalah penyeimbang bagi dia agar bisa kembali pada keadaan semula yang ideal. Memory kita jangan disibukan apalagi dikacaukan dengan hukuman yang menimpa lawan kita.
 
o Menyiangi Memory.
Kemampuan digital yang semakin modern saat ini membuat kapasitas memory orang akan semakin besar, bukan itu saja, akses ke sumber ingatan atau memory ini semkain mudah dan cepat. Kapasitas tampung maupun akses ke perangkat digital (cloud misalnya) , cenderung  menuju tak terhingga. Padahal secara alamiah otak manusia sudah dikarunia kemampuan mengingat dengan ada batasan atau ada limitasinya. Bahkan ada fungsi otak manusia yang berfungsi mendelete, menyiangi kenangan atau ingatan tertentu agar tidak memenuhi ruang di benaknya yang bisa menyebabkan over load yang pada akhirnya menyebabkan manusia tertindih oleh beban ingatan yang sangat banyak. 
Masa tulang manusia saja bisa menyusut, begitu juga berat badan , kemampuan melihat , mendengar, mengunyah makanan, berbicara, juga akan berkurang, demikian pula ingatanpun akan mengalami degradasi mengikuti hal serupa. Tidak ada super body , namun ada super soul . Jiwa adalah unsur super yang ada dalam diri manusia. Tubuh bisa hancur namun jiwa tidak bisa hancur. Kenangan adalah salah satu unsur jiwa. Biarpun tubuh sang pembuat kenangan telah hancur tiada karena kematian yang telah merenggutnya tak soal berapa banyak usianya, nmaun kenangan yang pernah ia buat selama hidup tidak akan hilang.  Filsuf Cicero berkata ,Viva enim mortuorum vivere in memoria est positia . Kehidupan orang yang telah meninggal masih terus hidup dalam kenangannya ketika ia masih hidup .   Ya “kenangan” yang pernah di buat seseorang terus hidup dalam kenangan pada orang lain meskipun si pembuat kenangan itu sudah meninggal.  

Mesti tunduk pada dalil bukan pada perintah 

Dalil yang di maksudkan disini adalah pendapat yang dijadikan rujukan kebenaran. Termasuk di dalamnya adalah Undang-Undang . Terutama Undang-undang tertulis. Karena yang tertulis selalu dijadikan rujukan yudisial yang lebih fair. Sekalipun tidak selalu baik dan benar. 
Tunduk pada perintah yang salah adalah kekejian. Perintah yang salah adalah perintah yang tidak sesuai dalil. Jika ada perintah periksa dulu apakah perintah itu nsesuai dalil atau tidak. 

Metoda menyembuhan luka dengan luka 
Bila kita kategorikan luka adalah hal yang negatip, dan sehat adalah hal positip, maka bila kita meminjam teknik Matematika, kita akan dapatkan formulasi berikut :
Negatif di kali Postip hasilnya Negatip ( - x + = - )
Postip di kali Postip hasilnya Positip    (+ x + = + )
Negatip di kali Negatip hasilnya Postip ( - x - = + )
Bagaimana menjelaskan formulasi di atas dalam praktek hidup harian masyarkat ? kelak saya akan  membuat refleksi tersendiri .

Lukai bathinnya , sentuh rasanya !  Dengan apa ?

Dengan prestasi . Bila ada lawan yang harus kita taklukan , maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan Prestasi kita . Hati musuh akan menjadi terluka bila ia menemukan ada kehebatan pada kita. Bukankah prestasi itu sesuatu yang positip , sesuatu yang baik ? jawabannya bukan, jangan keliru  . Prestasi itu adalah kumpulan hal-hal buruk di mata musuh. Musuh tidak akan pernah menginginkan hal baik ada pada kita. Rancangan kecelakaan akan menjadi uapyanya untuk kita. Obyek sengketanya ada pada musuh kita. Kita masuk dalam obyek yang disengketakan. Jangan pernah kita berusaha memindahkan obyek yang disengketakan dari perhatian dia. 
Hal positip yang ada pada kita  urusannya adalah dengan sahabat kita yang juga postip . Niscaya hasilnya postip (simak formulasi matematika di atas). 

Positip adalah keadaan yang seimbang, keadaan yang diinginkan . Apa yang diseimbangkan ? Yang di seimbangkan adalah rasa , penyeimbangnya adalah rasa. Menyeimbangkan perasaan dan tanggung jawab. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi