Kemiskinan yang menghiburkan

 




Oleh : Eddy Ngganggus

 

Inilah bentuk donasi yang paling baik dari negara buat rakyatnya yang miskin. Pertama-tama yang di butuhkan oleh orang miskin adalah keadilan. Bukan bantuan materi semata . Mengapa keadilan ? Realita miskin sangat berkorelasi langsung dengan keadilan . Semakin adil sebuah pemerintahan , akan semakin sejahtera rakyatnya. Apa itu keadilan . Keadilan versi orang miskin adalah “penyederhanaan birokrasi”.  Urusan administrasi jangan sampai menyita waktu lebih panjang dari waktu petani mencangkul ,waktu nelayan melaut, waktu tukang grab mengantar penumpangnya, waktu papalele menjual dagangannya, waktu angalai buka lapak jualannya, waktu tukang jual es kelapa muda menjual kelapanya, waktu tukang jual nasi membuka warungnya dan lain-lain usaha orang-orang atau pekerja yang minim modal dan minim income. Mereka membutuhkan birokrasi yang lebih sederhana dari  cara mereka berjibaku dengan pekerjaan mereka. Jangan sampai urusan administarsi surat menyurat lebih rumit dari pekerjaan mereka mencari uang. Penyederhanaan birokrasi bagi orang miskin itu adalah keadilan yang nyata buat mereka. Tidak usah dulu kita bicara keadilan distribusi pendapatan, keadilan kesempatan kerja buat mereka. Dengan menyedarhanakan birokrasi itu sudah lumayan mendatangkan rasa adil dan mafaat keadilan langsung bagi mereka. Ini salah satu bukti keadilan real yang mereka rasakan. Berikut arti keadilan versi orang miskin adalah tidak mengajar mereka dengan kata-kata, tetapi mengajar mereka dengan teladan hidup. “Teladan hidup” adalah didikan yang mumpuni untuk menyatakan keadilan buat mereka. Satunya kata dan perbuatan. Kata yang bernilai keutamaan , bukan sekedar istilah-istilah yang sulit dimengerti. Kata sejahtera misalnya . Ujaran santun yang keluar dari mulut pemimpin itu mestinya sejalan dengan perilaku santun oleh pemimpin yang berujar , sehingga implikasinya bisa di rasakan rakyatnya. Dengan begitu rasa sejahtera di hati yang datang dari pendengaran dan penglihatan bisa real dirasakan  oleh rakyat dari pemimpinnya. Inilah kesejahteraan yang datang dari keteladanan yang di maksud. Teladan hidup berupa satunya kata dan perbuatan adalah terapi keadilan yang berkorelasi dengan kemiskinan. Semakin tidak satunya kata dan perbuatan baik dan benar dari pemimpin akan semakin membuat rakyat miskin. Kemiskinan lebih disebabkan oleh karena sikap hidup para pemimpinnya ketimbang masalah musim kering yang berkepanjangan, atau lantaran hama penyakit tanaman, hewan, bencana alam. Mengapa ? karena hal yang berkaitan dengan alam sifatnya insidentil sedangkan yang berkaitan dengan sikap hidup itu rutin dalam interaksi setiap hari dari bangun pagi hingga bangun pagi besok hari sebagian waktu bersentuhan langsung dengan sesama manusia.

Orang miskin adalah “hiburan” bagi orang-orang yang sok peduli dengan kesulitan orang lain. Lantaran target mereka adalah bukan meluputkan orang dari kemiskinan tetapi meluputkan si donatur dari degradasi pamor dan degradasi popularitas. So hiburan sangat di rasakan donatur setelah lolos dari degradasi ini… heheh… ironi dan ambigu sekali ya.....  Lalu bagaiman baiknya ? saya berikan solusi jenaka , apa itu ? " bersahabat dengan rasa takut ". Bersahabatlah dengan rasa takut masuk ke  penjara karena kedapatan korupsi , rasa takut karena malu kepada tetangga lantaran kebiasaan sex menyimpang dengan bukan pasangan hidupnya, bersahabat dengan rasa takut di tolak pasangan hidup, anak-anak lantaran ketahuan familiar dengan narkoba dan alkohol.   

Orang-orang miskin ini membutuhkan sikap yang layak dan fair atas hasil pekerjaan mereka. Kesempatan untuk mendapatkan perlakuan yang sepadan dengan hasil kerja mereka, bukan saja belas kasihan yang seolah-olah atau peduli semu dari orang-orang, bukan sedekah dari mereka yang merampok masa depan keluarga mereka. Bukan sok peduli dari orang-orang yang saat yang bersamaan sedang mengabaikan keadilan. Bagi mereka yang senang mempublikasikan bantuan sosial, tidak akan banyak membantu orang miskin keluar dari kemiskinan meraka, karena mereka tahu itu hanya instruksi bagi mereka untuk mencitrakan pendermanya supaya menjadi lebih popular, itu ibarat gula-gula yang di berikan kepada anak-anak biar mereka senang sesaat, tetapi tidak pernah menjadi sebuah opsi permanen untuk membebaskan mereka dari kemiskinan. Dari mana bisa tahu seperti itu , yah dari ceritera turun temurun tentang historynya peduli kepada orang miskin , banyak diisi dengan ceritera peduli yang semu, bukan peduli sejati. Karena pamrih di balik sedekah itu sering kali memberatkan mereka. Si penderma dalam banyak hal lebih bertindak sebagai seorang bandar , ketimbang donatur. Bagi seorang bandar tentu donasi adalah sebuah investasi. Yang namanya investasi harus kembali, Karena itu tentunya bandar tidak mau tekor. Motif Pencitraan si penyumbang misalnya, ini tampaknya sepele bila kita tidak menelaahnya lebih jauh. Pencitraan diri terkait langsung dengan motif ekonomi. Dengan memiliki pamor yang baik tentunya akan menjadi magnet untuk ragam kepentingan , seturut dengan profesi si donatur. Bila keadilan sungguh di terapkan maka jumlah si miskin tentunya akan berkurang, dengan begitu  sumbangan bakal tidak di perlukan lagi ataupun kalau ada jumlahnya akan lebih sedikit. Keadilan akan menyurutkan niat orang melakukan korupsi. Porsi pendapatan orang miskin berkurang akibat adanya ketidakadilan penggunaan sumber daya oleh mereka yang berkuasa, lantaran distribusinya yang tidak merata.  Karena itu marilah kita hibur rakyat miskin dengan menyederhankan birokrasi, kemudian menjadi teladan nilai keutamaan lewat satunya kata dan perbuatan yang baik, lalu bersahabat dengan  rasa takut yang positip, itulah donasi kita untuk menghibur rakyat, bukan sebaliknya kita mendapatkan hiburan baru dari rakyat karena rajin berdonasi kepada rakyat miskin.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi