I am a Prostitute I am Virgin

Oleh : Eddy Ngganggus


    Masa iya ? ada pelacur yang  masih perawan. 
Mana ada bandit yang benar . Tidaklah logis orang tersesat di jalan yang benar, This is contradiction in terminis .
Judul tulisan di atas adalah frase yang kontradiktif . Tidak sedikit orang yang percaya kebenaran perihal  ada bandit yang benar. Karena apa ? Karena bandit adalah penjahat. Ada kepentingan yang diselubungkan mereka di balik kata-kata bijaknya ,demi meraup keuntungan. Para loyalitas atas sesembahannya adalah loyalitas semu, ketaatan pada pimpinan atau atasannya adalah ketaatan yang semu. Yang sejati dari yang semu ini adalah "keuntungan" pribadi. 
Hari ini kampanye diri tentang peduli dengan sesama oleh mereka yang mengaku pembawa jalan keluar atas aneka problem hidup bertebaran di ragam tempat. Program digitalisasi lah, out of the box thinking lah, inovasi 4.0 lah.
Ini tidak beda dengan klaim pelacur yang mengaku dirinya masih perawan.
Kaum fundamentalis tidak mudah percaya, bahkan merasa itu jauh panggang dari api. Mengapa ? Karena tracking historical atau rekam jejak para pengucap ini  buruk, lebih banyak membawa keresahan daripada kedamaian. Buah karyamu lebih banyak yang kecut , pahit ketimbang manis. Jika ada yang tampak maju dari karyamu itu hanyalah tampak yang "seolah-olah" atau "semu". Pembalutnya saja yang manis,  di dalamnya masam dan pahit tak terkira.
Hari ini leader seperti ini ada di sekitar kita, bak pelacur yang mengaku masih perawan. Leader yang korup namun berlagak jujur. Pemimpin yang korup itu setara dengan pelacur. Mereka tidak mungkin ada yang perawan dalam artian handal dan hebat memimpin. Korupsi yang telah dilakukan di samarkan dengan frase kata yang lembut bahwa semua sudah selesai. Jika ditelusuri apa yang sudah selesai itu ? itu hanya sebuah jurus yang di buat untuk mengelabui lawan agar terkesan jujur.

Gerakan dari premis menuju konklusi . 

    Pelacur tidak mungkin ada yang perawan, ini adalah sebuah premis. Mereka yang masuk kategori perawan saja yang boleh masuk menjadi pasukan khusus.  Koruptor adalah pelacur. Konklusinya ; Koruptor tidak bisa masuk dalam pasukan khusus. Ini sebuah analogi. Pemimpin adalah pasukan khusus yang memiliki kriteria bersih dari ragam kekotoran masa lampau. Bukan ex tahanan yang belum bertobat, bukan ex terperiksa yang belum jerah dari kelakuan jahatnya, tetapi ex tahanan yang telah bertobat, ex terperiksa yang telah jerah dari perilaku buruk. Karena itu Konklusi yang yang menyatakan bahwa koruptor tidak bisa masuk dalam pasukan khusus dikecualikan bagi koruptor yang telah bertobat, telah jerah dari perilaku buruk masa lampaunya. 

Menghargai kontras

    Jika sajian di atas berisi banyak diksi yang kontras itu lantaran hemat saya kontras akan menampakkan yang lain. Yang selama ini mungkin di anggap baik, benar, ternyata itu menyembunyikan ragam kesalahan, aneka keburukan, banyak kebobrokan. Menjadi tampak setelah dikontraskan dengan pernyataan yang tampak keras dan kasar

Kita mengerti menghargai payung karena pernah mengalami buruknya dingin ketika diguyur hujan. Kita mengerti menghargai jaket karena pernah mengalami buruknya dingin. Lalu kita mengerti menghargai kesahajaan karena pernah mengalami buruknya hidup dalam kubangan kebejatan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemalangan maupun kesenangan permanen itu ilusi

Di PHK , Sedih tetapi jangan Sepi