Membaca tanda-tanda zaman dari analisis ex ante dan ex post kejadian fraud di perbankan
Oleh : Eddy Ngganggus
Gampangnya begini ex ante itu tindakan Preventif atau pencegahan, ex post itu tindakan kuratif / perbaikan dari kesalahan yang sudah terlanjur terjadi agar memiliki daya mengobati dari keadaan tidak sehat. Dunia perbankan menggunakan terminus / istilah prudensial banking atau berhati-hati dalam berbisnis untuk tujuan ex ante, yang dasarnya adalah mencegah terjadi risiko yang melekat pada bisnis bank *).
Terpilin ilusi menjadi kaya
Banker’s yang adalah pekerja bank ,bukan pemilik bank. Sebagai pekerja, penghasilannya sudah tertentu dan pasti . Jumlahnya sudah pasti lebih kecil dari penghasilan pemilik bank. Penghasilan pemilik juga pasti dan tertentu serta lebih besar dari yang diterima para pekerjanya. Kadang uang , pangkat dan jabatan menyihir pekerja ingin menyetarakan dirinya dengan pemilik, entah itu penghasilan, popularitas, kekuasaan, pengaruh dan previllage setara pemilik lainnya. Terkait ini ada sebuah fenomena baru yang sedang terjadi yakni YUPPIES, singkatan Young Urban Profesional , yang bercirikan usia muda, pintar, gesit, workaholic, ambisius, punya posisi baik, dan memiliki angan-angan tinggi. Para profesional muda ini kehadirannya pada dunia bisnis perbankan cukup banyak lalu menjadi favorit dan dielukan para pekerja . Kemajuan yang cukup pesat di sisi kemampuan intelektual ,namun belum tentu pada kematangan emosi. Kaum YUPPIES memiliki imajinasi yang cukup tinggi akan sebuah obsesi. Bagi kaum non YUPPIES membedakan antara realitas konkrit dan imajinasi menjadi hal yang samar-samar. Tidak mudah berada dalam alam dengan atmosfer yang berada di antara yang mustahil dan yang niscaya ini. Lalu bagaimana mendamaikan hal gamang ini ? adalah hasil atau buah dari karya para YUPPIES apakah mendatangkan kebaikan, akan menjadi jawabannya. Adakah kecerdasan itu mendatangkan peduli ? adakah yang gesit itu bisa menepikan , meminggirkan keresahan. Realitas employ satisfaction (kepuasan karyawan), customer satisfaction (kepuasan pelanggan) harus mewujud menjadi realitas. Hanya dengan kepuasan inilah YUPPIES itu bermanfaat dan diterima kehadirannya. Lalu bagaiman kaitannya dengan judul tulisan di atas ? Memitigasi , mencegah kejadian fraud dari kaum YUPPIES menjadi relevan, lantaran tidak sedikit fraud berpangkal dari YUPPIES dadakan yang lebih besar napsu ambisi daripada bekal kapasitas teknis maupun etisnya. Beberapa solusi :
1. Potensi YUPPIES yang berciri hal-hal hebat ,wajib menyertakan tata humanity pada tiap kebijakan bisnisnya. Tajamkan humanitas dengan cara memaksimalkan kecerdasan rekonsiliatif dengan mereka yang berbeda pandangan untuk merajut titik kesamaan humanitasnya.
2. Karena ini adalah proses yang berlanjut , maka yang kedua perlu di implementasikan yakni Pendidikan perdamaian. Edukasi perdamaian dengan sesama. Karena sesama itulah yang mensukseskan bisnis, karena sesama itulah sehingga ada kaum YUPPIES. Tanpa sesama ,bisnis tidak ada, kaum YUPPIES tidak ada.
Malfungsi bisnis banking bisa berawal dari kaum YUPPIES bila dominasi kapasitas intelek menjadi acuan kerja tanpa integrasi kapasitas etis secara berimbang. Kegunaan intelegensi adalah untuk membawa kebaikan dan kebenaran. Kebenaran tanpa kebaikan tidak banyak faedahnya bagi bisnis, kebaikan minim kebenaran boleh jadi bisa berfaedah bila kendali etis di lakukan dengan konsisten. Intelegensi jangan sampai di fungsikan sebagai etalase untuk mempertontokan kehebatan saja, namun hendaknya dapat merubah yang resah menjadi suka cita, yang terkulai lisut menjadi bersemangat, yang lemah menjadi kuat, yang bodoh menjadi cerdas, yang miskin menjadi sejahtera, yang liar menjadi jinak, yang melawan menjadi penurut, yang provokatif menjadi pendamai, yang semu menjadi sejati, yang pembohong menjadi jujur, pengkhianat menjadi setia, dan sederatan nilai keutamaan lainnya.
Mengabaikan kebaikan dan kebenaran dalam berbisnis , hanya akan menunggu waktu kapan bisnis itu collaps . Tanda-tanda kejatuhan itu nampak dari pemunculan ragam fraud yang tak surut , berikut model pencegahan yang belum diimplemntasikan optimal, bahkan cenderung di abaikan.
Memperbaiki itu penting, mencegah itu urgent.
Catatan :
*) terdapat 10 risiko yang melekat pada bisnis bank yakni : Risiko Kredit, Pasar, Operasional, Liquiditas, Reputasi, Stratejik, Hukum, Kepatuhan, Reputasi, Imbal hasil dan Investasi.
Komentar
Posting Komentar