Bila Hanya Membawa Keresahan Buat Apa Berkuasa
Bila hanya membawa keresahan buat apa berkuasa
Oleh : Eddy Ngganggus
Tujuan berkuasa adalah untuk kesejahteraan orang yang dikuasainya. Menguasai orang lain dengan typical intimidatif adalah ciri penguasa yang kekuasaannya akan di cabik oleh orang yang dipimpinya. Karena tidak mungkin ada loyalis sejati di sekitarnya. Yang pasti ada hanyalah loyalis semu. Karena pada ihkwalnya tidak ada manusia yang suka dengan penguasa yang membawa keresahan ke dalam kominutas kekuasaannya. Masih tidak percaya ? dan mau membuktikannya ? Jawabannya adalah silahkan lanjutkan dan maksimalkan gaya berkuasamu, kelak akan terjawab kebenaran premis humanis di atas.
Penguasa jenis ini tidak sadar membenturkan nilai keutamaan dengan nilai keburukan ke dalam lingkungan kerjanya . Nilai keutamaan tidak mungkin bisa dikuasi oleh keburukan. Jika tampaknya gaya berkuasa ini cocok dengan pendasaran bahwa perubahan di wilayah ini hanya bisa di rubah dengan pendekatan kekuasaan model ini, saya ajak kita berkolaborasi ide berikut :
1. Kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, asal muasalnya dari diksi latin ,“Salus Populli Suprema Lex Esto”. Ini adalah konstitusi tertinggi ,baik perspektif yudisial maupun perspektif etiknya. Tidak ada kebenaran etik di dalam gaya berkuasa yang menghadirkan keresahan bagi orang yang di pimpinnya .
2. Tidaklah mungkin kita mengharapkan garis lurus dengan menggunakan mistar bengkok. Seberapapun mulia penguasa ingin membetulkan kesalahan yang ada bila sumpah jabatan yang pernah diikrarkan di langgarnya pula? di dalam sumpah jabatan itu berisi seluruh janji luhur untuk mempimpn secara baik dan benar . Ibarat induk bebek mengajarkan anak bebek berjalan. Dalam gaya bahasa Kupang bilang ; “mai bebek minta kepada anaknya agar kalau jalan panta jangan ba edok , padahal dia pung mai jalan panta ada ba edok bukan main “, heheh….bukankah itu ambigu ?
3. Belajar dari pengalaman mereka yang terjerat masuk ke dalam jeruji besi akibat melanggar sumpah jabatan. Mengira akan lolos dari jeratan hukum karena menganggap apa yang dilakukan itu benar dan masih in line atau on the track dengan sumpah jabatan sambil mengabaikan fakta keresahan yang sedang terjadi pada orang-orang yang dipimpinya adalah sebuah entry gate atau gerbang masuk menuju gerbang bui. Menakar sisi yuridis normative dengan yuridis empiris ini menjadi awasan agar segera ambil haluan untuk “ Rendah hati” berbalik pada kebenaran sejati , bukan kebenaran semu . Sebab jika tidak, pemimpin seperti ini akan terus di sandera oleh napsu berkuasa tanpa fondasi nilai keutamaan. Jika tampak bersikap rohani , itu hanya kesan di postingan di media sosial saja, ia tidak bisa mengubah realita buah yang di hasilkan yakni “ KERESAHAN ” yang sedang mendera orang-orang yang di pimpin. Kecuali ia berbuah dengan nilai-nilai keutamaan.
Mengapa Hukum tidak menjerakan ?
Perilaku menyimpang dari para penguasa seakan tidak surut, terus berduplikasi . Ragam kategori perilaku menyimpang terutama dua tabiat ini yakni mencuri uang (baca korupsi), penjahat seksual , yakni asmara tidak wajar antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan. Ini fenomena dominan penguasa yang sulit di jerakan, berikut dua sebab menurut saya, jika pembaca punya yang lain , silahkan di tambahkan :
1. Karena alam sudah menetapkan kandidat terhukum untuk memenuhi jumlah orang-orang yang harus dipenjarakan . Pertanyaan reflekifnya ; mengapa anda, dia, mereka, bukan yang lain ?
2. Hilangnya nurani dan jiwa negarawan pada diri penguasa. Nurani disekat oleh tumpukan materi . Selaput minim empati pada seorang penguasa berakar pada rendahnya integritas.
Ajakan
Menjadi orang kaya nilai akan menghindarkan penguasa dari predikat pembawa keresahan. Salah satu jalan menuju ke sana adalah dengan banyak bergaul , diskusi, berteman dengan ragam orang yang kaya nilai. Mereka itu bisa manusia, bisa buku. Santu Thomas Aquinas menyindir orang yang minim bergaul dengan buku sebagai “homo unius libri“ atau manusia satu buku.
Ayo mari berubah dengan bergaul dengan lebih banyak orang atau lebih dari satu buku. *) Semoga.
Luar biasa Pak Eddy.. Sebuah refleksi moral dan etik bagi para pemimpin..
BalasHapusTerimakasih responsya, semoga berbuah dalam karya kita.
BalasHapusKorupsi sudah menjadi pekerjaan. Dan tindakan korupsi 90% dilakukan oleh yg mempunyai power kekuasaan.
BalasHapusTugas kita yang dipimpin ,melakukan kontrol . Sebab jika kontrolnya lemah maka kediktatoran akan muncul, pak Jelio
HapusMantap kk, ini menjadi bahan refleksi buat kita ketika kita memimpin..tetap smgt kk 💪💪
BalasHapus